Vertical Sanctuary: Psikologi Ruang Atas untuk Mengatasi Rasa Sesak di Hunian Urban

Bagi mereka yang tinggal di apartemen mikro atau rumah minimalis lahan sempit, musuh terbesarnya bukanlah kurangnya barang, melainkan rasa “sesak secara visual”. Otak manusia secara insting merasa terperangkap ketika pandangan horizontal terhalang oleh tumpukan furniture. Solusinya bukan membuang barang, melainkan menerapkan Vertical Sanctuary.


1. Efek “Sky-High”: Mengalihkan Pandangan ke Atas

Saat kita memasuki ruangan, mata kita cenderung memindai area setinggi mata (eye-level). Jika area ini penuh, kita merasa sesak. Vertical Sanctuary bekerja dengan cara “memaksa” mata untuk melihat ke atas, ke arah langit-langit, yang biasanya merupakan area kosong paling luas di rumah.

Furniture Kunci: Gunakan rak buku yang tingginya mencapai plafon (floor-to-ceiling shelves). Secara psikologis, garis vertikal yang panjang menciptakan ilusi ketinggian, memberikan persepsi “ruang untuk bernapas” bagi otak.

2. Floating Furniture: Menciptakan Efek Melayang

Mengapa furniture yang memiliki kaki tinggi atau menempel di dinding (floating) terasa lebih ringan? Karena otak kita menghitung luas ruangan berdasarkan luas lantai yang terlihat. Semakin banyak lantai yang bisa dilihat mata (bahkan di bawah sofa atau lemari), semakin luas ruangan tersebut dirasakan.

3. Pencahayaan Vertikal (Up-Lighting)

Dalam konsep Vertical Sanctuary, pencahayaan tidak boleh hanya jatuh ke bawah. Gunakan lampu yang menyorot ke arah plafon atau bagian atas rak. Cahaya yang memantul dari atas memberikan efek “langit buatan”, yang secara insting menurunkan tingkat stres akibat berada di ruang tertutup.

Kesimpulan: Luas Itu Persepsi, Bukan Ukuran

Anda tidak butuh lebih banyak meter persegi untuk merasa lega. Anda hanya perlu menggunakan dimensi vertikal yang selama ini terabaikan. Dengan Vertical Sanctuary, rumah kecil Anda bisa berubah dari “kotak sempit” menjadi “suaka yang lapang”.

About Author : SherishAdmin
YOU MAY ALSO LIKE

Leave A Comment